RAFTING DI MALANG

http://absolutestaffing.net/rafting-di-malang/

KONDISI TERTENTU DALAM RAFTING

Dalam melakukan aktifitas rafting dierlukan tindakan dan keputusan yang cepat dan tepat karena setiap awak perahu memerlukan seorang pemimpin / guide untuk menyatukan tindakan seluruh awak. Seorang guide tidak perlu harus memiliki status atau kekuatan tertentu, tapi dapat membaca situasi ketika di sungai. dia merupakan seorang awak, yang untuk sementara bertindak mengendalikan perahu melalui sebuah komando instruksi-instruksi. Yang paling menyenangkan apabila semua mendapat kesempatan menjadi kapten. Bagi pemula, menjadi kapten berarti mempercepat proses peningkatan kemampuan dan ketrampilan berarung jeram.

PENGINTAIAN (SCOUTING)

Pengintaian untuk mengamati jeram yang belum dikenal, Pengintaian sejumlah jeram meliputi pencarian tempat mendarat yang aman, bebas dari air yang menyulitkan. Semua dilakukan dengan berjalan sepanjang tepi sungai untuk mengetahui dan menemukan bagaimana kesulitan dan bahaya yang mungkin akan dihadapi dalam berarung jeram. Sekali diputuskan untuk melewati jeram tertentu, maka usahakan seoptimal mungkin lewat jalur terbaik dan aman.

Pentingnya melakukan pengintaian terhadap situasi sungai berjeram karena berhubungan dengan beberapa faktor penentu untuk memutuskan untuk melewati jeram tertentu atau tidak.

Adapun faktor tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Panjang, kesulitan dan bahaya jeram yang bersangkutan.
  2. Bagaimana sifat-sifat air yang berada di bawah jeram.
  3. Kesanggupan dan kemampuan awak perahu untuk menyelamatkan diri pada jeram yang sulit.
  4. Persiapan mental seluruh awak.

CATATAN: Biasanya awak perahu terdiri dari orang-orang berpengalaman, tetapi kadang-kadang lebih banyak yang bersumber.Tahap selanjutnya setelah melalui pengintaian adalah berembuk merencanakan jalur pengarungan.

MANUVER

Ferry merupakan teknik dasar manuver. Digunakan ketika melewati belokan sungai dan menghindari hambatan  rintangan jeram.

Sudut ferry adalah sudut antara perahu dengan arah aliran sungai bukan dengan tepi sungai. Pada aliran pelan sangat mungkin melakukan ferry lurus memotong aliran arus air, tetapi dengan arus cepat, kebanyakan usaha memotong aliran arus dilakukan dengan ferry bersudut ox sampai 45 derajat.

Ada 2 macam ferry yaitu:

A.Haluan mengarah ke hulu (Bow Upstream ferry)

Bow Upstream ferry dilakukan dengan dayung maju dan mengarahkan posisi perahu ke hulu dengan sudut 45 derajat, terhadap aliran arus dan perahu akan menuju arah yang diinginkan. Jika kecepatan perahu ke hilir ingin diperlambat, maka lakukan Bow Upstream ferry dengan sudut kurang dari 45 derajat dan sebaliknya perbesar sudut hingga tepat atau mendekati aliran alur sungai. Umumnya sudut ferry sebesar 45 derajat adalah sudut optimum.

B.Haluan mengarah ke hilir (Bow Downstream ferry).

Sebaliknya Bow Downstream ferry dilakukan dengan dayung balik dan mengarahkan buritan ke hulu dengan sudut 45 derajat menuju arah tempat yang diinginkan.

PERENCANAAN JALUR (PLANNING A COURSE)

Sebelum melewati  jeram, rencanakan dahulu jalur mana yang dipilih untuk di lewati, karena bila diamati dengan seksama ada banyak alur jeram yang secara langsung merupakan rintangan yang harus dihindari. Pilih jalur termudah. Dengan melewati suatu jalur jeram yang tepat, berarti jeram yang dilewati tersebut tidak perlu dengan melakukan manuver yang berlebihan. Cukup mengikuti kecepatan aliran arus air yang ada pada jeram tersebut.

Dalam memutuskan suatu jalur tetentu, resiko melakukan kesalahan harus diperhitungkan. Kerap kali setelah kita menentukan suatu jalur, berulang kali harus diamati dari mulut hingga kaki lidah air.Setelah berhasil melalui alur diantara batu-batu, maka jalur-jalur tersebut dipelajari dan diingat kembali untuk digunakan sebagai patokan dalam pengarungan selanjutnya.

Pada aliran yang bertenaga kuat, minimumkan usaha manuver, karena manuver cenderung memepercepat keadaan perahu terbalik. Sebab akhir dari aliran arus yang kuat membentuk ombak dan gelombang yang tinggi.

MENGHADAPI KEADAAN DARURAT

Suatu keadaan darurat dalam olah raga arung jeram disebabkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. MENABRAK BATU

Menabrak batu yang muncul di permukaan air, umumnya jarang berakibat fatal bila diatasi dengan  benar,cepat dan tidak panik. Jika tabrakan dengan batu tak mungkin dihindari, maka arahkan haluan ke batu tersebut. Akibat dari tindakan ini, perahu akan terhenti sesaat dan arus di sekitar batu akan memutar perahu dan bagi awak perahu yang kurang waspada biasanya akan terpental dari perahu. Lakukan langkah-langkah pengamanan dengan posisi siap mendayung untuk keluar dari situasi berbahaya lebih lanjut, di sebelah hulu.

  1. MENEMPEL DI BATU

Bilamana perahu menabrak batu pada sisi samping  maka seluruh awak dari sisi lainnya harus segera berpindah ke sisi dimana perahu itu menempel di batu. Dorongan arus yang kuat dari hulu akan mengangkat naik perahu dan menempel di batu.

  1. TERBALIK

Bila perahu akan terbalik waspada dan hati-hatilah terhadap bahaya berikutnya, baik terhadap benda-benda keras di dalam perahu atau batu itu sendiri. Jika perahu akibat dari tabrakan itu terbalik, maka segera melompat kearah yang bebas dan aman. Bagi awak perahu yang tidak dapat segera lepas dari perahu yang terjebak, tertutup dalam bagian perahu yang terbalik. Segera keluarlah pada situasi seperti ini, sehingga akan terhindar dari benturan batu bagian bawah yang tidak terlihat.

CATATAN : Bila menabrak batu dengan haluan di muka, reaksi dan respon orang-orang di buritan harus segera berpindah ke tengah, dengan demikian perahu akan terhindar dari terbalik atau terangkat menempel di batu.

Perahu yang terbalik dan tidak dapat segera dikembalikan ke posisi semula dengan mudah, maka tali dan tenaga aliran sungai dari hulu dapat membantunya, dan ini dilakukan setelah perahu bebas dari aliran arus yang kuat dan berjeram.

Awak perahu naik ke sisi perahu yang mengarah ke hulu. Setelah perahu dimiringkan dengan bantuan tali, arus sungai dari bagian hulu akan membantu mendorong bagian bawah yang memutar perahu untuk dan mudah dibalikkan kembali.

  1. BERENANG DI JERAM

Bila awak perahu terlempar dari perahu, berteriaklah agar diketahui oleh anggota yang lain. Berenanglah ke arah tepi atau ke arah perahu. Posisi berenang yang benar pada sungai yang berjeram dan berbatu yaitu dengan muka menghadap ke hilir. Tetapi pada jeram tanpa batu, posisi berenang adalah mendatar di atas perut seperti biasa. Bagaimanapun saat berenang harus memperhatikan rintangan atau hambatan batu di depan, perhitungkan arah arus agar dapat menghindar terhadap rintangan berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *